SYARIAT SIMBOLIK DAN ISLAMISASI NEGARA: Eksperimentasi Perda Syari’at Sebagai Jalan Baru Menuju Negara Islam

JURNAL IQTISAD: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia
Universitas Wahid Hasyim

📄 Abstract

Abstract This paper discusses one of the phenomena that erupted Post-Reformation is a desire to make rules in areas removed from the spirit of Islamic law. Appearing later legislation on dressmaking, ask for compensation as well curfew for women. Understanding Islamic Sharia in the context of a plural society like Indonesia is a research question asked in this paper. In conclusion, the substance of the Shari'a must first be made as reference material from the formalist Shari'a. Keywords: Islamic Sharia, Islamization, State Abstrak Tulisan ini membahas salah satu fenomena yang merebak Pasca Reformasi yakni keinginan untuk membuat peraturan di daerah yang disarikan dari semangat hukum Islam. Muncul kemudian legislasi tentang tata busana, kewajiban moral serta pembatasan jam malam bagi perempuan. Memahami Syariat Islam dalam konteks masyarakat yang plural seperti Indonesia adalah pertanyaan penelitian yang hendak dibahas dalam tulisan ini. Sebagai kesimpulan, syariat substantif harus terlebih dahulu dijadikan sebagai bahan rujukan daripada syariat formalis. Kata Kunci: Syariat Islam, Islamisasi, Negara

🔖 Keywords

#Syariat Islam; Islamisasi; Negara; Islamic Sharia; Islamization; State

ℹ️ Informasi Publikasi

Tanggal Publikasi
26 June 2020
Volume / Nomor / Tahun
Volume 7, Nomor 1, Tahun 2020

📝 HOW TO CITE

Kholiludin, Tedi; Hapsin, Abu, "SYARIAT SIMBOLIK DAN ISLAMISASI NEGARA: Eksperimentasi Perda Syari’at Sebagai Jalan Baru Menuju Negara Islam," JURNAL IQTISAD: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia, vol. 7, no. 1, Jun. 2020.

ACM
ACS
APA
ABNT
Chicago
Harvard
IEEE
MLA
Turabian
Vancouver

🔗 Artikel Terkait dari Jurnal yang Sama

📊 Statistik Sitasi Jurnal

Tren Sitasi per Tahun